PELUANG PENDIDIKAN DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN REVOLUSI SOCIETY 5.0

 

PELUANG PENDIDIKAN DALAM REVOLUSI INDUSTRI 4.0 DAN REVOLUSI SOCIETY 5.0

Oleh:

Maesa Saputra

 

 

ABSTRAK

Dinamika transformasi pendidikan telah berkembang secara pesat, seiring dengan teknologi yang semakin berkembang. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya sistem dan metode pembelajaran yang didukung oleh teknologi dunia digital. Perkembangan tersebutditandai dengan determinasi era globalisasi (Silfia, 2018). Determinasi globalisasi ini ditandai dalam era industri 5.0. Era revolusi industri 5.0 terjadi karena adanya dampak dari revolusi 4.0. Pada era revolusi industri 4.0 siswa diuntut untuk berfikir kritis oleh karena itu, pembelajaran case – base Learning atau pembelajaran berbasis kasus menjadi metode yang bisa diterapkan pada proses pembelajaran. Case-base Learning sendiri merupakan teknik pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi siswa dalam menganalisis suatu kasus dan memberikan pemecahan masalah terhadap kasus tersebut. Solusi pemecahan kasus tersebut harus relevan dengan refleksi kehidupan sehari-hari. Case-base learning bertujuan agar siswa terbiasa memecahkan masalah dalam kehidupan nyata dengan benar.

Kata kunci: Era Society 5.0 dan Pendidikan Indonesia

 

 


PENDAHULUAN

Revolusi industri merupakan suatu perubahan besar di bidang teknologi yang menyebabkan perubahan di bidang lainnya. Revolusi industri dimulai pada tahun 1750 dan biasa disebut revolusi industri 1.0 ketika ditemukan mesin uap. Revolusi industri 2.0 dimulai ketika adanya pergantian penggunaan mesin uap ke mesin yang menggunakan tenaga listrik. Revolusi industri 3.0 dimulai ketika proses produksi sudah menggunakan mesin yang mampu bergerak dan dikontrol, mulai digunakannya robot sederhana, hingga penggunaan komputer.

Kemudian revolusi industri 4.0, di era ini sistem diarahkan ke bentuk digital dibantu dengan jaringan (Annisa, 2021). Indonesia saat ini memasuki era revolusi 4.0. Revolusi ini ditandandai dengan perpaduan teknologi dan mengaburkan garis ruang fisik, digital, serta biologis. Era revolusi industri 4.0 ini semakin sedikit aktivitas terikat secara fisik pada lokasi geografis. Sebab, semua kegiatan manusia berkonversi dari manual menuju digital (Sumartono & Huda, 2020). Revolusi industri 4.0 identik dengan disruption, disruptive (ketercerabutan) karena hampir semua ranah kehidupan berkonversi dari manual menuju digital.

Dalam UU No. 20 Tahun 2003 mengatakan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengambangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya dan masyarakat, bangsa dan negara” (Sofian, 2019). Adapun hubungan dunia pendidikan dengan revolusi industri 4.0. adalah dunia pendidikan dituntut untuk mengikuti perkembangan teknologi yang berkembang pesat serta memanfaatkan teknologi informasi dan komunikasi sebagai fasilitas lebih dan serba canggih untuk memperlancar proses pembelajaran. Selain itu, (Pranaja & Astuti, 2019) mengemukakan diharapkan dengan pemanfaatan teknologi informasi dan komunikasi pola pikir pembelajaran dapat bergeser dari berpusat pada guru (teacher centered) menjadi berpusat pada peserta didik (student centered).

Menurut (Dewi & Firman, 2019) pendidikan 4.0 adalah respon terhadap kebutuhan revolusi industri 4.0 di mana manusia dan teknologi diselaraskan untuk menciptakan peluang-peluang baru dengan kreatif dan inovatif. (Efendi, 2019)menjelaskan “Tujuan dari pendidikan 4.0 tersebut adalah menyiapkan SDM (Sumber Daya Manusia) yang kreatif dan sesuai dengan tuntutan saat ini dimana dunia sedang menghadapi revolusi industri yang berbasis digital”. (Lukum, 2019) mengemukakan bahwa pendidikan di era revolusi industri 4.0 dipandang sebagai pengembangan tiga kompetensi besar abad ke-21, yakni kompetensi berpikir, bertindak dan hidup di dunia. Kompetensi berpikir meliputi berpikir kritis, berpikir kreatif, dan pemecahan masalah. Kompetensi bertindak meliputi komunikasi, kolaborasi, literasi digital dan literasi teknologi. Sedangkan kompetensi hidup di dunia meliputi inisiatif, mengarahkan diri, pemahaman global serta tanggung jawab sosial.

Era ini akan  menginduksi revolusi pendidikan menjadi pendidikan 4.0 yang menuntut perubahan yang fundamental dalam proses pembelajaran. Dinamika transformasi pendidikan telah berkembang secara pesat, seiring dengan teknologi yang semakin berkembang. Hal tersebut bisa terjadi dikarenakan adanya sistem dan metode pembelajaran yang didukung oleh teknologi dunia digital. Perkembangan tersebutditandai dengan determinasi era globalisasi (Silfia, 2018). Determinasi globalisasi ini ditandai dalam era industri 5.0. Era revolusi industri 5.0 terjadi karena adanya dampak dari revolusi 4.0 (Indramawan & Hafidhoh, 2019). Masyarakat 5.0 dapat dimaknai sebagai masyarakat yang di mana setiap kebutuhan harus disesuaikan dengan standar gaya hidup (life stlye) setiap masyarakat serta pelayanan produk yang sudah berkualitas tinggi dan memberi rasa nyaman terhadap semua orang.

Society 5.0 atau bisa diartikan masyarakat 5.0 merupakan sebuah konsep yang dicetuskan oleh pemerintah Jepang. Konsep society 5.0 tidak hanya terbatas untuk faktor manufaktur tetapi juga memecahkan masalah sosial dengan bantuan integrasi ruang fisik dan virtual (Skobelev & Borovik, 2017). Society 5.0 memiliki konsep teknologi big data yang dikumpulkan oleh Internet of things (IoT) (Hayashi) diubah oleh Artifical Inteligence (AI) (Rokhmah, 2019) (Özdemir, 2018) menjadi sesuatu yang dapat membantu masyarakat sehingga kehidupan menjadi lebih baik (Mathews, 2015). Society 5.0 akan berdampak pada semua aspek kehidupan mulai dari kesehatan, tata kota, transportasi, pertanian, industri dan Pendidikan (Undang-Undang Republik Indonesia Tentang Sistem Pendidikan Nasional).

Era super smart society (society 5.0) sendiri diperkenalkan oleh Pemerintah Jepang pada tahun 2019, yang dibuat sebagai antisipasi dari gejolak disrupsi akibat revolusi industri 4.0, yang menyebabkan ketidakpastian yang kompleks dan ambigu (VUCA). Dikhawatirkan invansi tersebut dapat menggerus nilai-nilai karakter kemanusiaan yang dipertahankan selama ini. Dalam menghadapi era society 5.0, dunia pendidikan berperan penting dalam meningkatkan kualitas SDM. Selain pendidikan beberapa elemen dan pemangku kepentingan seperti pemerintah, Organisasi Masyarakat (Ormas) dan seluruh masyarakat juga turut andil dalam menyambut era society 5.0 mendatang.

Saat ini pendidikan di Indonesia memasuki era 4.0. Trand pendidikan Indonesia saat ini yaitu online learning (Ahmad, 2018) yang menggunakan internet sebagai penghubung antara pengajar dan murid. Perkembangan teknologi rupanya menjadi peluang bisnis dibidang pendidikan dengan mendirikan bimbel berbasis online (Syarizka, 2019). Selain itu perkembangan teknologi juga mengubah tatanan pendidikan di Indonesia sebagai contohnya 1) sejak tahun 2013 sistem ujian nasional berubah dari paper based test menjadi online based test (Pakpahan, 2016), 2) sistem penerimaan penerimaan peserta didik baru dari tingkat SD sampai dengan tingkat Universitas di Indonesia sudah dilakukan sevara online baik dari pendaftaran sampai dengan pengumuman penerimaan (Daulay, 2019).

Peran guru atau pengajar dalam era Revolusi Industri 4.0 harus diwaspadai, para pendidik tidak boleh hanya menitik beratkan tugasnya hanya dalam transfer ilmu, namun lebih menekankan pendidikan karakter, moral dan keteladanan. Hal ini dikarenakan transfer ilmu dapat digantikan oleh teknologi namun, penerapan softskill dan hardskill tidak bisa digantikan dengan alat dan teknologi secanggih apapun (Risdianto, 2019). Dengan lahirnya society 5.0 diharapkan dapat membuat teknologi dibidang pendidikan yang tidak merubah peran guru ataupun pengajar dalam mengajarkan pendidikan moral dan keteladanan bagi para peserta didik. Salah satu implikasi yang fundamental dari tantangan revolusi industri 5.0 adalah pada elemen pendidikan. Perkembangan teknologi yang begitu cepat dan masif mengharuskan sektor pendidikan untuk dapat beradaptasi terhadap digitalisasi sistem pendidikan yang sedang berkembang. Tantangan era revolusi industri 5.0 perlu dikemas dan dipersiapkan secara matang, sehingga akan selaras dengan perkembangan zaman, dalam mempersiapkan tantangan era 5.0, proyeksi kurikulum pendidikan telah menyebutkan beberapa pokok substansi yakni: 1) pendidikankarakter; 2) kemampuan berpikir secara kritis, kreatif, daninovatif; 3) kemampuan dalam mengaplikasikan teknologi pada era tersebut. Sejalan dengan hal tersebut Krathwol dan Anderson (dalam Wibawa & Agustina, 2019) telah membuat taksonomi pendidikan yang terbagi dalam Low Order Thingkinng Skill (LOTS) dan High Order Thingking Skill (HOTS).

METODE PENELITIAN

Pada penulisan artikel ini, penulis menggunakan metode deksriptif dengan pendekatan kualitatif. Hal tersebut dilakukan, dengan mengumpulkan datadata yang bersifat primer dan sekunder untuk kemudian dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan faktafakta yang terjadi secara empirik dan juga secara teoritik.

PEMBAHASAN

Pendidikan Indonesia Pada Era Revolusi Industri 4.0

Era revolusi industri 4.0 merupakan era dimana teknologi informasi berkembang pesat dan mewarnai setiap kehidupan manusia. Era revolusi industri 4.0 ditandai dengan berkembangnya internet of things yang merambah diberbagai bidang kehidupan masyarakat saat ini. Salah satu nya yaitu dibidang pendidikan. Oleh sebab itu ada beberapa upaya yang perlu dilakukan 1) revitasisasi kurikulum, 2) pemanfaatan teknologi informasi yang tepat. Menurut Muhadjir Effendy (Mendikbud) bahwa merambahnya revousi industri 4.0 masuk ke dalam dunia pendidikan maka diperlukan perbaikan kurikulum dengan peningkatan kompetensi peserta didik, antara lain (Yusnaini, 2019):

1.      Critical thinking

2.      Creativity and Innovation

3.      Interpersonal skill and communication

4.      Teamwork and collaboration

5.      Confident

Seiring dengan berkembangnya teknologi, cara belajar mengajar di era revolusi industri 4.0 juga mengalami perubahan. Internet dan komputer menjadi sarana yang akan memudahkan proses belajar mengajar. Proses pembelajaran yang dulunya harus dilakukan dengan tatap muka secara langsung antara guru dan siswa, kini pada era revolusi industri 4.0 pembelajaran dapat dilakukan dengan kelas online melalui media sosial atau media lainnya yang mendukung proses pembelajaran online. Hadirnya internet dan kecepatan search engine melahirkan gerakan literasi digital. Pencarian teori, konsep, praktik, dan jenis keilmuan apapun via intenet menjadi sangat mudah dan sangat cepat.

Seiring dengan kecepatan pengaksesan data dan intenet, pemerintah Indonesia mulai tahun 2017 mencanangkan tiga jenis literasi (salah satunya literasi digital) dalam menghadapi revolusi industry 4.0 (Risdianto, 2019). Konsep literasi digital tidak hanya bertumpu pada “membaca” namun juga peningkatan kemampuan untuk menganalisis dan menggunakan informasi-informasi digital yang diperoleh (Aoun, 2017) untuk keperluan yang benar, menghindari hoax, dll. Dalam hal Pembelajaran di era revolusi industri 4.0, para pendidik dapat menerapkan model hybrid/blended learning. Blended learning adalah metode yang menggabungkan pembelajaran tatap muka dikelas dengan pembelajaran online (Wilson, 2015).

Sebagai contoh dari blended learning yaitu penggunaan sistem learning management system pada sebuah perguruan tinggi ataupun sekolah. Sistem learning management sistem dapat mempermudah proses pembelajaran karena sitem ini berjalan secara online jadi siswa dan pengajar tidak perlu melakukan tatap muka secara langsung. Mereka dapat melakukan diskusi online, ujian online, dan siswa dapat mengunduh materi secara online pada sistem. Sistem ini dapat diakses dimana saja dan kapan saja. Pada era revolusi industri 4.0 siswa diuntut untuk berfikir kritis oleh karena itu, pembelajaran case – base Learning atau pembelajaran berbasis kasus menjadi metode yang bisa diterapkan pada proses pembelajaran. Case-base Learning sendiri merupakan teknik pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi siswa dalam menganalisis suatu kasus dan memberikan pemecahan masalah terhadap kasus tersebut. Solusi pemecahan kasus tersebut harus relevan dengan refleksi kehidupan sehari-hari. Case-base learning bertujuan agar siswa terbiasa memecahkan masalah dalam kehidupan nyata dengan benar. (Bhakti, 2018).

Sebuah proses pembelajaran tidak lepas dari peran pengajar atau guru untuk itu pada era revolusi industri 4.0 ini dibutuhkan pengajar yang memiliki core competence yang kuat meliputi educational competence, competence in research, competence for digital, competencein globalization, dan competence in future straties. Tantangan dalam dunia pendidikan untuk guru di era revolusi industri 4.0 yaitu kesiapan guru dalam akses dan penguasaan teknologi, masih rendahnya tingkat media literasi dikalangan guru, hanya sebagian guru yang mempunyai akses terhadap teknologi informasi. Tantangan bagi siswa jumlah siswa yang masih terlalu banyak sehingga menimbulkan kesulitan dalam proses pembelajaran serta akses terhadap teknologi informasi yang masih belum merata (Wibawa, 2018). Untuk itu, peran pemerintah dalam pemerataan pembangunan dan pemerataan fasilitas pendidikan di wilayah Indonesia harus lebih diutamakan lagi agar nantinya pada saat pengimplementasian pembelajaran berbasis internet dan teknologi dapat merata hingga keseluruh wilayah Indonesia.

Urgensi Society 5.0

Society 5.0 adalah sebuah konsep yang digagas oleh pemerintah Jepang dengan mempertimbangkan aspek teknologi untuk mempermudah kehidupan manusia. Akan tetapi, gagasan ini juga didukung oleh pertimbangan akan aspek humaniora sehingga diperoleh konsep keseimbangan dalam implementasi teknologi tersebut. Guna mencapai sebuah komunitas masyarakat yang didefinisikan sebagai super smart society¸ dibutuhkan berbagai future services dalam berbagai sektor.

Hal ini dapat dipenuhi dengan adanya kemampuan teknologi yang kuat, serta adanya sumber daya manusia yang kompeten dalam bidang masing-masing untuk menjalankan profesinya secara digital sekaligus berkontribusi untuk memberikan laya nan yang lebih baik untuk masyarakat. Saya menganalisis bahwa Industry 4.0 sudah marak sekali menjadi tujuan pengembangan teknologi di berbagai sektor dan berbagai daerah pula. Sering kali aspek kemanusiaan menjadi luput. Oleh karena itu, dalam melakukan perencanaan, misal Engineering Design perlu dilakukan proses studi user experience agar hasil yang dibuat (baik produk maupun jasa) memenuhi keinginan dan kebutuhan customer, sehingga hasilnya menjadi tepat sasaran. Sebagai contoh, dalam proses Design Thinking, terdapat sebuah tahapan Empathize, yang mana hal ini merupakan bagaimana perancangan dilakukan terlebih dahulu dengan berusaha berempati kepada calon pengguna mengenai hal yang hendak dibuat.

Proses ini akan menguji apakah produk atau jasa yang hendak dibuat menyelesaikan isu permasalahan atau tidak, dan jika menyelesaikan permasalahan, sebesar apa dan sebermanfaat apa hasilnya. Society 5.0 sebagai sebuah gagasan kepeloporan harapannya mampu menyelesaikan isu ini. Namun, masih perlu banyak perkembangan terutama dari sisi teknologi untuk “menjemput” era kemasyarakatan kelima ini. Untuk melakukan sebuah revolusi besar-besaran, perlu adanya modal yang cukup kuat. Dalam hal ini, kualitas sumber daya manusia menjadi hal yang cukup krusial dalam membentuk sistem terintegrasi yang sesuai dengan kebutuhan.

Jika semua sumber daya mencukupi, sewajarnya mimpi untuk mengubah dunia menjadi Society 5.0 bukan lagi merupakan kemustahilan. Justru hal ini sangat mungking, meninjau berbagai perkembangan teknologi di seluruh belahan dunia yang sangat cepat, ditandai dengan penemuan-penemuan baru di bidang teknologi yang dapat mempermudah pekerjaan dan kehidupan manusia. Society 5.0 menjadi konsep tatanan kehidupan yang baru bagi masyarakat. Melalui konsep society 5.0 kehidupan masyarakat diharapkan akan lebih nyaman dan berkelanjutan. Orang– orang akan disediakan produk dan layanan dalam jumlah dan pada waktu yang dibutuhkan. Dalam era society 5.0 masyarakat dihadapkan dengan teknologi yang memunkinkan pengaksesan dalam ruang maya yang terasa seperti ruang fisik. Dalam teknologi society 5.0 AI berbasis big data dan robot untuk melakukan atau mendukung pekerjaan manusia. Berbeda dengan revolusi industry 4.0 yang lebih menekankan pada bisnis saja, namun dengan teknologi era society 5.0 tercipta sebuah nilai baru yang akan menghilangkan kesenjangan sosial, usia, jenis kelamin, bahasa dan menyediakan produk serta layanan yang dirancang khusus untuk beragam kebutuhan individu dan kebutuhan banyak orang.

Hal yang menjadi prinsip dasar dalam society 5.0 adalah keseimbangan dalam perkembangan bisnis dan ekonomi dengan lingkungan sosial. Dengan teknologi pada era society 5.0, masalah yang tercipta pada revolusi industri 4.0 (berkurangnya sosialisasi antar masyarakat, lapangan pekerjaan, dan dampak instrialisasi lainnya) akan berkurang. agar terintegrasi dengan baik (Faruqi, 2019). Pemanfaatan teknologi tidak hanya sebagai alat untuk memasyurkan kehidupan pribadi dan bisnis, namun juga harus dapat memasyurkan kehidupan antar umat. Contoh dari society 5.0 dibidang sosial yaitu dengan penggunaan AI untuk menganalisis big data dari berbagai informasi seperti satelit buatan, radar cuaca didarat, pengamatan daerah bencana dengan drone, informasi kerusakan dari sensor bangunan, dan informasi kerusakan dari sensor bangunan.

Pada bidang pendidikan di era society 5.0 bisa jadi siswa atau mahasiswa dalam proses pembelajarannya langsung berhadapan dengan robot yang khusus dirancang untuk menggantikan pendidik atau dikendalikan oleh pendidik dari jarak jauh. Bukan tidak mungkin proses belajar mengajar bisa terjadi dimana saja dan kapan saja baik itu dengan adanya pengajar ataupun tidak. Belum selesai dengan hiruk pikuknya era revolusi industri 4.0 Indonesia dikejutkan dengan konsep baru yaitu society 5.0. Fokus keahlian bidang pendidikan abad 21 saat ini meliputi cretivity, critical thingking, communicaion dan collaboration atau yang dikenal dengan 4Cs (Risdianto, 2019).

Beberapa kemampuan yang harus dimiliki di abad 21 ini meliputi : leadership, digital literacy, communication, emotional intelligence, enterpreneurship, global citizenship, problem solving, team-working. Apakah pendidikan kita siap untuk menghadapi society 5.0?. Beberapa cara yang bisa dilakukan oleh dunia pendidikan di Indonesia untuk menghadapi society 5.0 yaitu yang pertama dilihat dari infrastruktur, pemerintah harus berusaha untuk meningkatkan pemerataan pembangunan dan perluasan koneksi internet ke semua wilayah Indonesi, karena seperti yang kita ketahui bahwa saat ini belum semua wilayah Indonesia dapat terhubung dengan koneksi internet. Kedua, dari segi SDM yang bertindak sebagai pengajar harus memiliki keterampilan dibidang digital dan berfikir kreatif. Menurut Zulkifar Alimuddin, Director of Hafecs ( Highly Functioning Education Consulting Services ) menilai di era masyarakat 5.0 ( society 5.0 ) guru dituntut untuk lebih inovatif dan dinamis dalam mengajar di kelas (Alimuddin, 2019).

Ketiga, pemerintah harus bisa menyinkronkan antara pendidikan dan industri agar nantinya lulusan dari perguruan tinggi maupun sekolah dapat bekerja sesuai dengan bidangnya dan sesuai dengan kriteria yang dibutuhkan oleh industri sehingga nantinya dapat menekan angka pengangguran di Indonesia. Keempat, menerapkan teknologi sebagai alat kegiatan belajar – mengajar. Menteri Riset Teknologi dan Perguruan Tinggi (Menristek Dikti), Muhammad Nasir, menerangkan bahwa ada empat hal yang harus menjadi perhatian perguruan tinggi untuk menghasilkan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi. Pertama, pendidikan berbasis kompetensi menjadi salah satu misi utama perguruan tinggi di era sekarang (Pemerintah, 2005).

Setiap mahasiswa mempunyai bakat dan kemampuannya masing–masing oleh karena itu, pendekatan teknologi informasi dibutuhkan untuk membantu menentukan program studi yang tepat sesuai dengan kemampuannya. Kedua, pemanfaatan (IoT) Internet of things pada dunia pendidikan. Dengan adanya IoT dapat membantu komunikasi antara dosen, mahasiswa dalam proses belajar mengajar. Tiga, pemanfaatan virtual/augmented reality dalam dunia pendidikan. Dengan digunakannya augmented reality dapat membantu mahasiswa dalam memahami teori – teori yang membutuhkan simulasi tertentu sesuai dengan kondisi sebenarnya. Teknologi 3D pada augmented reality membuat pemakainya merasakan simulasi digital, layaknya kegiatan fisik nyata. Misalkan pada simulasi pesawat terbang yang digunakan oleh para siswa penerbangan untuk lolos uji coba, sebelum melakukan praktik terbang langsung dengan pesawat sebenarnya. Keempat, pemanfaatan Artifical Intelligence (AI) dalam dunia pendidikan untuk mengetahui serta mengidentifikasi kebutuhan pembelajaran yang dibutuhkan oleh pelajar.

Proses identifikasi kebutuhan siswa akan lebih cepat dengan teknologi mechine learning yang tertanam artifical intelligence. Semakin banyak data digital yang terhimpun, semakin cerdas pula sistem artifical intelligence, contohnya: Google Assistent, Siri, dll. Dengan teknologi-teknologi tersebut, para pelajar disajikan dengan kemudahan dan kecepatan pencarian data, bahkan teknologi tersebut dapat merekomendasikan data yang tadinya tidak terfikirkan oleh mereka. artifical intelligence tidak hanya menyajikan data mentah, namun juga data yang sudah diolah menjadi data sangat informatif disesuaikan dengan kebutuhan penggunanya. Pemanfaatan tiga teknologi diatas yaitu artificial intelligence, IoT dan augmented reality diharapkan bisa menciptakan lulusan yang berkualitas dan memiliki kompetensi yang siap pakai di dunia industri (Munanda, 2019).

Pendidikan Karakter Mempersiapkan Era Society 5.0

Pendidikan karakter merupakan usaha dan upaya yang dilakukakan di dalam membangun karakter para siswa agar merealisasikan nilai-nilai secara normatif. Berdasarkan titik konsep tersebut, maka hal yang dapat dilakukan dalam menguatkan implementasi dari pendidikan karakter adalah dengan berupaya secara intens untuk dapat membangun jenis karakter akan ditanamankan pada siswa (Sudrajat, 2011). Pada upaya penanaman pendidikan karakter tersebut, para tenaga pendidik juga harus dibekali konsep-konsep ilmuwan yang relevan agar dapat berimplikasi dalam praktek-praktek empirik.

Berdasarkan UU sistem pendidikan nasional (Sidiknas) No. 20 tahun 2003 (dalam Khasanah, & Hernia, 2019), juga dijelaskan: “Poyeksi pendidikan nasional adalah mengembangkan peserta didik untuk memilikikecerdasan, kepribadian, dan akhlak mulia. Salah satu poin penting dari tujuan pendidikan nasional tersebut adalah pembentukan insane yang cerdas serta berkarakter. Hal tersebut tentu menjadi sebuah harapan semua elemen bangsa dalam meningkatkan generasi muda yang tidak hanya pintar secara teoritik, tetapi juga mempunyai akhlak, moral, serta karakter. Kementrian Pendidikan Nasional saat ini juga sudah berupaya menerapkan konsep pendidikan yang berlandasan karakter nasional di semua elemen pendidikan. Konsep pendidikan tersebut didesain dalam membentuk aspek kebudayaan, psikologis, akhlak, olah rasa dan rasa, dan kecerdasan spiritual (Rizqy, 2019). Manfaat serta implikasi yang dihasilkan dari desain pendidikan karakter tersebut adalah peserta didik mampu mengembangkan kecerdasan akademik maupun spiritual, bertanggungjawab secara moral, dan berpikir secara kritis, kreatif, inovatif, serta berkelanjutan (sustainable).

Pada upaya meningkatkan pendidikan karakter sendiri, pemerintah telah membuat program gerakan Penguatan Pendidikan Karakter (PPK) pada tahun 2010. PPK tersebut termaktub dalam delapan butir Nawacita, yakni gerakan revolusi mental dan revolusi karakter di sektor pendidikan (Jumarudin, Gafur, & Suardiman, 2014). Ada lima elemen nilai karakter yang terdapat dalam dimensi pendidikan yang perlu untuk digalakkan,yakni:

1.      Keagamaan

Keagamaan merupakan penanaman pendidikan karakter dalam dimensi teologis. Setiap tindakan yang akan dilakukan baik oleh individu maupun suatu kelompok masyarakat harus diupayakan berdasarkan nilai-nilai ajaran agama serta prinsip ketuhanan yang diyakininya (Mustari & Rahman, 2011). Manifestasi dari penanaman karakter dengan mengedepankan nilai-nilai agama adalah dengan menghargai dan menghormati pluralitas yang ada, toleransi antar umat beragama, tidak memaksakan kehendak terhadap orang lain, dan saling mencintai antar umat tanpa membeda-bedakan dari segi apapun. Perkembangan revolusi industri 5.0 tentu memberikan tantangan tersendiri, khususnya dalam dimensi keagamaaan. Masyarakat 5.0 cenderung berkiblat ke arah barat, sehingga dimensi keagamaan akan dengan luntur sendirinya. Hal tersebut juga ditandai dengan pola kehidupan masyarakat yang kurang peduli terhadap pendidikan keagaamaan sejak dini, sehingga hal tersebut berdampak kepada masa yang akan datang anak tersebut.

2.      Nasionalis

Penanaman karakter nilai nasionals merupakan manifestasi cara bersikap dan bertindak yang menitikberatkan kebutuhan atau kepentingan bangsa dan negara di atas kepentingan pribadi dan golongan. Sub nilai yang dapat diambil dari penanaman nilai nasionalis lainnya dapat ditemukan adanya pola perilaku peserta didik yang dapat menghormati nilai-nilai keluhuran budaya bangsa, sikap toleransi, saling menghargai dan menghormati serta cinta terhadap tanah air. Salah satu hal penting lain dari pelaksanaan nilai nasionalis adalah adanya korelasi yang relevan apabila pancasila sebagai ideologi sebuah bangsa dengan perkembangan era 5.0. Penerapan pancasila sebagai nilai fundamental bangsa merupakan salah satu perkembangan dari soft skill dari peradaban era 5.0 tersebut (Prakarsa, 2012). Eksistensi pancasila dapat mendukung perkembangan era 5.0 bila mana sistem serta proses pendidikan berbasis berbasis pada substansi-subtansi nilai pancasila.

3.      Mandiri

Nilai karakter mandiri dapat dimaknai sebagai perilaku individu yang tangguh serta tidak mengedepankan bantuan orang lain. Implikasi kedepan adalah sikap kreatif, adanya rasa tanggungjawab, percaya diri, mampu menyelesaikan masalah, dan mempunyai keterampilan sesuai kemampuannya. (Nefri, 2017). Pada era sekarang, pola kehidupan masyarakat telah mengalami perubahan secara masif, sehingga pola hidup masyarakat banyak bergantung terhadap orang lain, contoh kecilnya seperti pelayanan jasa ketik, makanan, riset dan lainya. Berdasarkan ketiga contoh tersebut, juga tentu sudah menguatkan karakter kemalasan tersendiri, sehingga akan terus bergantung kepada orang lain.

4.      Gotong Royong

Penanaman karakter gotong royong merupakan cerminan dari sikap saling kerja sama (teamwork) dalam menyelesaikan berbagai persoalan dan jalinan komunikasi antar sesama. Implikasi penamanan karakter gotong royong yakni peningkatan rasa kebersamaan, tolong- menolong antar sesama, persatuan, mengutamakan musyawarah untuk mufakat dan juga rela berkorban demi sesama. Perkembangan serta paradigma era 5.0 sudah memberikan pergeseran sikap dan tindakan masyarakat yang dahulu, yang mengedepankan perilaku gotong royong dan kini malah berubah ke arah yang lebih individualis. Perilaku individualis di era kontemporer dapat dimaknai sebagai pola hidup yang cenderung berdasar kepada kebebasan pribadi di atas kepentingan bersama, sehingga individu akan hidup secara apatis dalam lingkungan sekitar.

5.      Integritas

Integritas merupakan nilai karakter yang bersifat fundamental yang dimiliki individu untuk dapat menjadi manusia yang sapat dipercaya, berdedikasi, dan memiliki komitmen yang kuat serta kredibilitas yang mumpuni. Menurut Jack Welch (dalam Hartanta, 2016) dalam bukunya “Winning”, mendefinisikan “integritas” sebagai “sepatah kata yang kabut (tidak jelas)”. Orang yang berintegritas adalah orang yang mencintai kebenaran, bertanggungjawab serta mau mengkoreksi kesalahan diri sendiri serta taat hukum yang berlaku di manapun orang tersebut berada. Implikasi yang diharapkan dari penanaman nilai karakter integritas di antaranya, menjadi manusia yang jujur, komitmen, bertanggungjawab, dan cinta terhadap kebenaran. Pada perkembangan era 5.0 karakter atau pribadi yang berintegritas tentu sangat diperlukan dan dibutuhkan sekali. Hal tersebut mengingat kepada era 5.0 yang diketahui banyak kekurangan pribadi-pribadi yang berintegritas dan berwawasan luas. Pribadi-pribadi yang kurang berintegritas tersebut dapat terjadi dikarenakan pola hidup serta pengaruh gaya kebaratbaratan, yang menurut penulis hal tersebut juga telah melunturkan budaya yang ada dibangsa sendiri.

 

 

 

 

PENUTUP

Era yang harus diwaspadai mulai saat ini adalah era society 5.0. Pendidikan di Indonesia dalam menyongsong era ini yaitu dengan pertama melihat infrastruktur yang ada di Indonesia, pengembangan SDM, menyinkronkan pendidikan dan industri dan penggunaan teknologi sebagai alat kegiatan belajar mengajar. Empat hal yang agar membuat perguruan tinggi menghasilkan lulusan yang berkualitas yaitu pendidikan berbasis kompetensi, pemanfaatan IoT (Internet of Things), pemanfaatan virtual atau augmented reality dan yang terakhir pemanfaatan AI (Artifical Intelligence).

Pada era revolusi industri 4.0 siswa diuntut untuk berfikir kritis oleh karena itu, pembelajaran case–base Learning atau pembelajaran berbasis kasus menjadi metode yang bisa diterapkan pada proses pembelajaran. Case-base Learning sendiri merupakan teknik pembelajaran yang berpusat pada pengembangan potensi siswa dalam menganalisis suatu kasus dan memberikan pemecahan masalah terhadap kasus tersebut. Solusi pemecahan kasus tersebut harus relevan dengan refleksi kehidupan sehari-hari. Case-base learning bertujuan agar siswa terbiasa memecahkan masalah dalam kehidupan nyata dengan benar. (Bhakti, 2018)

DAFTAR PUSTAKA

Banks, JA. 1993. Multicultural Education: Historical Development, Dimention an Practice, Reviwe of Research ini Education. Vol 19. Halaman 254.

Dewi, P.Y. and Primayana, K.H., 2019. Effect of learning module with setting contextual teaching and learning to increase the understanding of concepts. International Journal of Education and Learning, 1(1), pp.19-26.

Dewi, P.Y.A. and Primayana, K.H., 2019. Peranan Total Quality Management (Tqm) Di Sekolah Dasar. Jurnal Penjaminan Mutu, 5(2), pp.226-236.

Dewi, P.Y.A., 2020. Hubungan Gaya Komunikasi Guru Terhadap Tingkat Keefektifan Proses Pembelajaran. Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 3(2), pp.71-78.

Dewi, P.Y.A., 2020. Paradigma Inisiasi Kultural Ke Multikulturalisme. Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 4(1), pp.33-46.

Dewi, P.Y.A., 2020. Perilaku School Bullying Pada Siswa Sekolah Dasar. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar, 1(1), pp.39- 48.

Dewi, P.Y.A., 2020. Persepsi Orang Tua Siswa Terhadap Biaya Pendidikan di Kota Singaraja (Doctoral dissertation, Unversitas Pendidikan Ganesha).

Gunawan, I.G.D., Mitro, M. and Primayana, K.H., 2021. STRATEGI PEMBELAJARAN AGAMA HINDU SELAMA PANDEMI COVID-19. Maha Widya Bhuwana: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya, 3(2), pp.123-130.

Gunawan, I.G.D., Suda, I.K. and Primayana, K.H., 2020. Webinar Sebagai Sumber Belajar di Tengah Pandemi COVID19. Purwadita: Jurnal Agama Dan Budaya, 4(2), pp.127-132.

Hartana, I. (2016). Integritas dan komitmen dalam bekerja. Diakses dari: https://ot.id/tipsprofesional/ integritas-dankomitmen-dalam-bekerja

Indramawan, A., & Hafidhoh, N. (2019). Pendidikan karakter sebagai upaya meningkatkan semangat belajar. Prosiding Semdikjar, 3, 477-485.

Jumarudin, J., Gafur, A., & Suardiman, S. P. (2014). Pengembangan model pembelajaran humanis religius dalam pendidikan karakter di sekolah dasar. Jurnal Pembangunan Pendidikan: Fondasi dan Aplikasi, 2(2), 114- 129.

Khasanah, U., Hernia, H. (2019). Membangun karakter siswa melalui literasi digital dalam menghadapi pendidikan abad 21 (revolusi industri 4.0). Prosiding Seminar Nasional Pendidikan Program Pascasarjana Universitas Palembang, 999- 1015.

Mustari, M., &Rahman, M. T. (2011). Nilai karakter:Refleksi untuk pendidikan karakter. Jakarta: Raja Grafika Persada.

Naim, NG. & Sauqi, A. 2008. Pendidikan Multikultural, Konsep dan Aplikasi. Yogyakarta: Arruz Media Group.

Nefri. (2017). Ciri ciri kemandirian. Diakses dari: https://pusatkemandiriananak.co m/ciri-ciri-kemandirian/

Payuyasa, I.N. and Primayana, K.H., 2020. Meningkatkan Mutu Pendidikan Karakter Melalui Film “Sokola Rimba”. Jurnal Penjaminan Mutu, 6(2), pp.189- 200.

Permadi, K.S., Dewi, P.Y.A., Sastrawan, K.B. and Primayana, K.H., 2020. Pengembangan Kecerdasan Spiritual Anak Sekolah Dasar. Edukasi: Jurnal Pendidikan Dasar, 1(2), pp.179- 196.

Pomalato, S.W.D., La Ili, B.A.N., Fadhilaturrahmi, A.T.H. and Primayana, K.H., 2020. Student Error Analysis in Solving Mathematical Problems. Universal Journal of Educational Research, 8(11), pp.5183-5187.

Prakarsa, W. (2012). Transformasi pendidikan akuntansi menuju globalisasi. 30. Diakses dari: http://blog. umy.ac.id/muhakbargowa/files/2 012/11/TRANSFORMASIPENDIDIKAN-AKUNTANSIMENUJU GLOBALISASI.pdf

Primayana, K.H. and Dewi, P.Y.A., 2020. Hubungan Pola Asuh Demokratis dan Intensitas Penggunaan Gawai pada Anak Usia Dini. Jurnal Obsesi: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 5(1), pp.710-718.

Primayana, K.H., 2016. Manajemen Sumber Daya Manusia Dalam Peningkatan Mutu Pendidikan Di Perguruan Tinggi. Jurnal Penjaminan Mutu, 1(2), pp.7-15.

Primayana, K.H., 2019, March. The Implementation Of School Management Based On The Values Of Local Wisdom Tri Hita Karana And Spiritual Intelligence On Teacher Organizational Commitments. In Proceeding International Seminar (ICHECY) (Vol. 1, No. 1).

Primayana, K.H., 2020. Meningkatkan Keterampilan Motorik Halus Berbantuan Media Kolase Pada Anak Usia Dini. Purwadita: Jurnal Agama dan Budaya, 4(1), pp.91-100.

Primayana, K.H., Dewi, P.Y.A. and Gunawan, I.G.D., 2020. Pengaruh project based outdoor learning activity menggunakan media audiovisual terhadap perilaku belajar anak di paud. Pratama widya: jurnal pendidikan anak usia dini, 5(2), pp.135-146.

Primayana, K.H., Dewi, P.Y.A. and Gunawan, I.G.D., 2020. PERAN ORANG TUA DALAM PENGEMBANGAN LITERASI DINI PADA ANAK. Widya Kumara: Jurnal Pendidikan Anak Usia Dini, 1(2), pp.30-39.

Primayana, K.H., Lasmawan, I.W. and Adnyana, P.B., 2019. Pengaruh Model Pembelajaran Kontekstual Berbasis Lingkungan Terhadap Hasil Belajar Ipa Ditinjau Dari Minat Outdoor Pada Siswa Kelas Iv. Jurnal Pendidikan dan Pembelajaran IPA Indonesia, 9(2), pp.72-79.

Rizqy, S. N. (2019). Pengintegrasian pendidikan berkarakter berbasis multikultural dalam pembelajaran bahasa Indonesia. Jurnal Senasbas, 3(2), 926-936.

Sastrawan, K.B. and Primayana, K.H., 2020. Urgensi Pendidikan Humanisme Dalam Bingkai A Whole Person. Haridracarya: Jurnal Pendidikan Agama Hindu, 1(1), pp.1-11.

Silfia, M. (2018) penguatan pendidikan karakter dalam menghadapi era revolusi industri 4.0. In: TANTANGAN yang dihadapi dalam duni pendidikan dan social studies diera revolusi industri 4.0, Desember 2018, Digital Library UNIMED.

Suardipa, I.P. and Primayana, K.H., 2020. Peran desain evaluasi pembelajaran untuk meningkatkan kualitas pembelajaran. Widyacarya: Jurnal Pendidikan, Agama dan Budaya, 4(2), pp.88-100.

Winia, I.N., Harsananda, H., Maheswari, P.D., Juniartha, M.G. and Primayana, K.H., 2020. Building The Youths Characters Through Strengthening Of Hindu Religious Education. Vidyottama Sanatana: International Journal of Hindu Science and Religious Studies, 4(1), pp.119-125.

 

 

 

 


 

 

 

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Pertanyaan dan jawaban tentang konstitusi